“Wah market kok turun terus ya Om…. Bagaimana kita bisa tahu tandanya kalau sampe bottom, kapan investasinya kalau gini??”
”Ya masuk average saja Thole…. pake DCA biar ga nyangkut dipohon kelapa”
“Layang layang kali nyangkut di pohon…. “
“Hussst…..”
Mungkin penggalan kalimat ini sering dihadapi dimasa bearish berat seperti sekarang ini, Market bergerak turun tajam karena tidak seimbangnya permintaan dan supply yang ada. Setiap hari sering dilihat saham saham selalu auto reject batas bawah.
Strategi menggadapi market seperti ini tentunya dibutuhkan money management yang bagus agar meminimalisasi lost yang mungkin didapatkannya. Salah satu strategi yang cukup ampuh untuk berinvestasi di market seperti ini adalah dengan cara DCA (Dollar Cost Average).
–oOo–
Dollar cost average adalah teknik yang digunakan untuk mereduksi resiko dalam berinvestasi dengan cara membeli saham atau instrument investasi menggunakan interval waktu dan jumlah dana yang tetap. Beberapa investor sukses telah membuktikannya dengan melakukan DCA dapat mengurangi resiko lost yang dihadapi dalam beinvestasi dalam jangka panjang.
Dollar Cost Average: Apakah itu?
Dalam melakukan investasi, investor mengambil posisi dengan membeli instrumen investasi dengan jumlah dana yang sudah dintentukan besarnya dan mekalukan pembelian secara bertahap setiap periode tertentu untuk jangka waktu investasi yang panjang, Sehingga jika instrumen investasi tersebut turun membeli dengan jumlah dana yang sama akan didapatkan insturmen investasi tersebut yang semakin banyak. Dalam kondisi market yang sedang turun (Bearish) teknik ini dapat menghasilkan average mendekati bottom market. Sehingga resiko porensial lost yang didapat akan semakin kecil.
Rencana Untuk Melakukan Dollar Cost Average
Untuk memulai rencana dollar cost average, ada beberapa hal yang harus dilakukan.
- Putuskan secara tepat berapa dana yang anda alokasikan untuk investasi setiap bulan. Pastikan bahwa dalam lakukan averaging anda melakukanya dengan konsisten, jika dilakukan dengan tidak konsisten metode ini tidak akan efisien.
- Pilihlah instrumen investasi atau saham yang anda ingin beli untuk jangka panjang, paling tidak lima sampe sepuluh tahun.
- Pada interval reguler (mingguan, bulanan, per quarter), Investasikan uang anda pada instrumen investasi yang anda pilih, dalam hal ini pilih saham yang sudah direncanakan sebelumnya.
Contoh Untuk Rencana Dollar Cost Average
Misalkan anda memiliki dana Rp. 15.000.000,- Anda ingin menginvestasikan pada saham A. Pada Tanggal 1 Januari 2000. Ada dua cara yang bisa dilakukan, anda bisa menginvestasikan dana tersebut dengan lum sum method (beli dan hold dalam sekali transaksi), atau anda dapat melakukan rencana dollar cost average pada metode investasi anda. Misalkan ada akan melakukan investasi Rp1.250.000,- setiap quarter untuk tiga tahun. (Lihat tabel I)
Jika anda investasikan Rp 15.000.000,- pada saham A, pada tanggal 1 Januari 2002, anda akan dapat membeli 2644 saham pada harga Rp. 5.672. Dengan dollar cost average pada saham selama tiga tahun terakhir, anda akan memperoleh 7462 saham pada harga penutupan, Meskipun masih ada lost, saham A hanya butuh naik ke Rp.2.010,- untuk anda memperoleh BEP (Break even point), bukan Rp. 5.672,-, nilai yang diperoleh jika tidak menggunakan dollar cost average.
Untuk memperoleh BEP tanpa menggunakan dollar cost average dibutuhkan kenaikan sebesar Rp. 5.672,-. Dengan menggunakan dollar cost average, anda akan mendapatkan profit sebesar Rp. 2.732,- ketika harga saham A menyentuh level BEP tanpa dollar cost average. (Rp 5.672,- harga jual – Rp. 2.010,- average cost = Rp 3.662,- profit x 7462 saham = Rp 27.325.844,- total profit).
Table 1: Saham A dengan Dollar Cost Averaging
|
Invest date |
Amount |
Price per share |
Shares purchased |
|
Jan. 2000 |
Rp. 1,250,000 |
Rp 5672 |
220.4 |
|
Apr. 2000 |
Rp 1,250,000 |
Rp 5419 |
230.7 |
|
Jul. 2000 |
Rp 1,250,000 |
Rp 3134 |
392.7 |
|
Oct. 2000 |
Rp 1,250,000 |
Rp 2260 |
533.1 |
|
Jan. 2001 |
Rp 1,250,000 |
Rp 2210 |
565.0 |
|
Apr. 2001 |
Rp 1,250,000 |
Rp 1905 |
656.2 |
|
Oct. 2001 |
Rp 1,250,000 |
Rp 1813 |
689.5 |
|
Jan. 2002 |
Rp 1,250,000 |
Rp 1614 |
774.5 |
|
Apr. 2002 |
Rp 1,250,000 |
Rp 1458 |
857.3 |
|
Jul. 2002 |
Rp 1,250,000 |
Rp 866 |
1443.4 |
|
Oct. 2002 |
Rp 1,250,000 |
Rp 1164 |
1073.9 |
|
Total |
Rp 15,000,000 |
Rp 2010 avg. |
7462.1 shares owned |
Dengan melakukan metode dollar cost average maka anda akan memperoleh tingkat resiko lost yang semakin kecil. Hal yang harus diperhatikan dalam melakukan metode ini adalah disiplin dengan time interval yang ditentukan dan time frame investasi jangka panjang.




Saya juga penginya pakai cara ini, bagus dibaca tapi sulit diaplikasikan.
Tapi bener kata anda, perlu disiplin tinggi dan itulah masalahnya:).
Kalau lihat kiri kanan suka hilang disipilinya.
[...] besar yang diperoleh, untuk menghindari kesalah timing tersebut, lakukanlah metode averaging DCA, dengan metode ini investor tidak perlu disusahkan oleh hiruk pikuk naik turunya harga setiap saat, [...]
[...] Dollar Cost Average untuk entry dan exit posisi, beli dan jual pada fixet rate. Hal ini untuk menghindari membeli pada puncak atau menjual pada bottom. [...]
[...] Dollar Cost Average untuk entry dan exit posisi, beli dan jual pada fixet rate. Hal ini untuk menghindari membeli pada puncak atau menjual pada bottom. [...]
emang bisa ya invest dg nilai skecil itu (1,25 jt)…