Faktor apa sajakah yang melatarbelakangi melakukan valuasi suatu saham? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, mungkin kita harus definisikan terlebih dahulu mengenai value investing.
“Om makin hari harga saham kok makin turun nich, berarti makin value donk ya untuk dibeli”
“Ya Thole…. saat yang tepat buat membeli dan memilih harga yang tepat di saat market discount”
“Iya Om…. Thole mau mulai beli ah….”
![]()
Value investing dapat didefinisikan yaitu mencari saham yang dijual pada harga discount terhadap nilai intrinsiknya pada saat harga turun karena alasan tertentu yang tidak berhubungan dengan kinerja dan fundamental perusahaan saham tersebut.
Benjamin Graham adalah orang yang memperkenalkan konsep value-investing untuk strategi memperoleh saham dengan fundamental kuat dan mempunyai nilai intrinsic yang tinggi yang dijual dengan harga yang murah.
–oOo–
Margin of Safety
Dengan alasan inilah dia selalu memasukan margin of safety pada setiap perhitungan valuasi suatu saham dalam memperoleh nilai intrinsiknya.
Hal ini penting karena kunci sukses value investing adalah membeli pada harga yang tepat. Strategi Graham disebut discipline dalam hal memilih harga, dengan memasukan margin of safety.
Jika tidak dapat membeli saham pada harga yang sudah ditentukan maka dia akan melewatkan atau tidak membelinya.
Financial Statistics
Beberapa study statistic financial value investor, secara historical atau kedepanya :
- price to book ratios
- price to sales ratios
- price to earnings ratios
- price to cash flow ratios
Value investor juga akan melihat rasio saham tersebut dengan sectoral sebagai pembanding pada grup industri yang sama.
Untuk lebih jelas lagi, value investor tidak pernah mencari suatu perusahaan yang sedang dan ada kemungkinan bangkrut. Mereka mencari perusahaan yang memiliki kinerja bagus dan menjadi leading di market.
Salah satu jalan untuk memastikan sebuah perusaan dalam keadaan solid silahkan cek rasio financial dibawah ini.
Debt Ratios
Lihatlah rasio Debt-nya (level Debt harus rendah) dan memiliki cash flow yang bagus. Perusahaan yang mempu memanage dept dan cash flow yang bagus adalah lebih berharga untuk lebih dipahami lebih jauh oleh value investor.
Bagaimana sebuah perusaan yang bagus menjadi value stock? Beberapa hal bisa terjadi
- Perusahaan tersebut mungkin tidak memiliki produk yang mewah. Beberapa produk tidak begitu diperhatikan oleh public. Beberapa produk yang kurang dapat perhatian umum tetapi harus tetap diproduksi.
- Prospek growth untuk saham mungkin tidak terlalu tinggi dibandingkan dengan kesempatan yang ada dalam market. Sejak dot.com buble di akhir 1990an, hampir beberapa saham yang tidak mempunyai teknologi tinggi menjadi menjadi value stock dibandingakan saham dot.com tersebut.
- Jika saham dijual “recehan”, beberapa investor berfikir bahwa saham tersebut memiliki sesuatu yang salah dengan perusahaannya. Hal ini tidak rasional akan tetetapi hal ini nyata terjadi.
Kesimpulan
Sukses dalam value investing terletak pada cara identifikasi saham yang diperdagangkan dibawah nilai intrinsic dari perusahaan saham tersebut dan membeli dengan menggunakan margin of safety pada kasus ini akan mendapatkan harga yang tetap dan menguragi resiko yang ada.




Nice writing. You are on my RSS reader now so I can read more from you down the road.
Allen Taylor
ribet bner yah investasi saham! haha..
tapi ini ada kaitannya dengan teori refleksivitas dari Soros, bahwa intinya adalah Market is always Wrong!!
ya memang dalam melakukan analisa pasar harus menantisipasi berbagai kemungkinan dan market selalau dinamis, maka pendekatan teoritikal kadang tidak berjalan di market.