Kontibusi bro Christ tjandra di forum JSX
Part 1
Dalam memutuskan akan memilih perusahaan apa yang mau kita beli untuk investasi, kurang lebih ada 2 cara yang menurut saya bagus :
1. Melihat di sekitar kita
Misalnya ada perusahaan2 yang brand produknya sangat dekat dengan keseharian kita, lalu juga dekat dengan mayoritas konsumen. Maka bisa kita mulai untuk mengecek laporan keuangannya, apakah memang kinerjanya sebagus brandnya atau tidak.
2. Stock Screening
Tak jauh berbeda sih di akhirnya, tapi dengan stock screening istilahnya kita mencari2 perusahaan yang kinerjanya bagus2, baru meneliti kandidat2 yang bagus itu lebih dalam lagi, dan akhirnya sampai pada suatu kesimpulan
–oOo–
Dan yang akan saya share disini adalah metode kedua, yaitu stock screening. Alasannya, metode pertama pun pada akhirnya harus lari ke pengecekan laporan keuangan.
Dan Metode kedua ini mencakup dua unsur utama, yaitu pengecekan terhadap kondisi KUALITATIF & KUANTITATIF perusahaan
Berikut kita akan bahas tentang poin kuantitatif terlebih dahulu, karena biasanya perusahaan dengan kualitas yang baik akan pergi ke angka2 yang baik. Meskipun angka2 bisa digoreng..
Poin pertama : LIQUIDITY
Perlu saya tekankan terlebih dahulu, bahwa unsur likuiditas ini, istilahnya dilihat dari keadaan SEKARANG. Yang artinya, memang sih, bisa dicek hanya dengan melihat laporan keuangan tahun terakhir. Tapi saya tekankan, agar tak membuat keputusan sebelum mengecek unsur PERFORMANCE perusahaan, setidak2nya selama 8 – 10 tahun terakhir, yang baru akan saya tulis di part selanjutnya. Dan lagi pula, untuk jenis / bidang bisnis yang berbeda pun, maka tentunya toleransi angka yang diberikan akan berbeda2, maka dari itu pahami betul bisnisnya. Tapi yang saya berikan di bawah ini hanya sebatas takaran umum saya.
Oke, balik ke likuiditas,
Menurut saya, Likuiditas merupakan poin pertama (bukan utama) yang menunjukkan keadaan tubuh perusahaan, entah itu sehat atau tidak. Kalau diibaratkan dalam manusia, yah, seperti isi dompet dan deposito kita lah. apakah isi dompet dan deposito itu mampu membiayai kebutuhan sehari-hari kita. Kalau tidak, ya siap-siap saja merengek ke orang tua / mertua minta bail out.
1. Cari DER (Debt to Equity Ratio) perusahaan yang < 1
Alasannya, saya pribadi agak ketat kalau soal hutang, makanya saya ingin melihat hutang perusahaan yang lebih sedikit ketimbang modal perusahaan. Selain itu, makin kecil perbandingan hutang perusahaan ketimbang ekuitasnya, maka makin kuat juga kondisi finansial perusahaan itu (dalam takaran bila terjadi resesi atau bencana tak terduga)
2. Cari Quick Ratio yang > 0.8
Rumusnya : [cash & cash equivalents + marketable securities (sering disebut short-term investment) + Account receivables ] / current liabilities
Bahasa Indonesianya kira : [kas&setara kas + investasi jangka pendek + piutang] / kewajiban jangka pendek
Ini kira2 seperti berapa uang di dompet dan ATM kita dibanding dengan pengeluaran kita selama setahun.
Alasan pakai Quick Ratio ? Sederhana, ratio ini secara otomatis mengeliminasi 1 unsur ‘pengecoh’ dalam aset, yaitu INVENTORY/PERSEDIAAN. Mau persediaannya segede bagong, mau persediannya kecil, kita melihat takaran likuiditas diluar inventori. Bukan berarti kita melupakan keefektivitasan perusahaan dalam manajemen inventory, tapi ini hanya step awal, nanti di tahap selanjutnya akan kita lihat mengenai performance perusahaan yang berkaitan dengan inventory, dll
Beberapa orang ada yang berpendapat bahwa Quick Ratio yang terlalu tinggi tidak baik, karena berarti perusahaan tersebut menyimpan uangnya di bawah bantal melulu, ‘ngendon’ melulu. Tapi terlalu dini untuk menyimpulkan hal pe’ngendonan’ tersebut sebelum melihat unsur ROE dalam performance, yang akan saya bahas di part selanjutnya. Jadi sebagai langkah awal, carilah Quick Ratio yang tinggi dulu, baru setelah itu kita eliminasi perusahaan2 yang uangnya ‘ngendon’..
3. Receivables Turnover Ratio > 6
Ini merupakan langkah lanjutan dari langkah nomor 2. Di Quick Ratio, kita harus memasukkan unsur piutang kedalamnya. Tapi ada masalah, bagaimana jika perusahaan tersebut ternyata gede di piutang doang, sedangkan piutangnya ternyata kebanyakan macet dan tak pernah dibayar2 ? Makanya kita harus melihat bagaimana kepiawaian perusahaan mengatur piutangnya
Rumus Receivables turnover ratio adalah : net annual sales / total receivables
Kira2 bahasa Indonya : penjualan bersih / total piutang
Kenapa > 6 ?
RTR = 6, misalnya, berarti bahwa perusahaan tersebut mendapatkan pembayaran piutangnya sebanyak 6 kali dalam setahun, yang berarti setiap 2 bulan sekali, piutangnya dibayarkan, dan uangnya dapat diputarkan kembali kedalam kegiatan perusahaan, sehingga mendapatkan hasil yang lebih baik. Pandangan saya pribadi, 2 bulan sekali adalah masa waktu minimal untuk memutarkan uang piutang tersebut. Semakin besar angka RTR tentu semakin baik kinerja perusahaan dalam mengatur piutangnya.
4. Lihat proporsi Total Assets dibandingkan dengan Total Liabilities.
Ingat, ratio2 yang kita pakai diatas hanya mencerminkan likuiditas jangka pendek. Bagaimana dengan melihat likuiditas jangka panjang ? Jawabannya adalah dengan melihat Total assets dibandingkan dengan Total Liabilitiesnya (kewajiban total). Lebih aman lagi, jika kita mengukur total assets dengan men’diskon’ inventory dan piutang terlebih dahulu.
Sebagai gambaran, anggaplah asset suatu perusahaan tercantum sebagai berikut :
Kas : 10 juta
Persediaan : 5 juta
Piutang : 6 juta
Gedung2 & mesin : 9 juta
Total kewajiban (jangka pendek & panjang) : 20 juta
Dalam hal ini, piutang bisa saja tidak dibayar, persediaan bisa saja mengalami penyusutan, hilang, dan sebagainya, sedangkan gedung & mesin bisa saja mengalami penyusutan. Maka dari itu, kita akan men’diskon’ persediaan & piutang terlebih dahulu. Kenapa kok gedung & aset fisik lainnya tak didiskon ? pertimbangannya, yang paling riskan untuk berkurang nilainya adalah piutang & persediaan, makanya kita tak mau terlalu sadis dulu untuk aset2 fisik.
Misalnya, saya suka mendiskon masing2 25 % untuk persediaan dan piutang. Maka dari data diatas kita akan mendapat :
Kas : 10 juta
Persediaan : 3 juta 750 ribu (setelah didiskon 25 %)
Piutang : 4 juta 500 ribu (setelah didiskon 25% )
Gedung2 & mesin : 9 juta
Total kewajiban (jangka pendek & panjang) : 20 juta
Maka jumlah aset(27 juta 250 ribu) dikurangi dengan total liabilities (20 juta) adalah 7 juta 250 ribu !! Bagus, masih bisa bayar hutang2nya nih..
Tapi ingat, kita tidak berhenti disini saja, normalnya, kita mencari yang total assets perusahaannya harus lebih dari total liabilities perusahaannya, tapi tentu saja ada yang sebaliknya. Nah untuk yang sebaliknya (liability > assets), maka jangan sampai terlalu jauh selisihnya. Lalu, perhitungan ini kan juga belum memasukkan unsur kinerja / performance perusahaan ? Bisa saja meski total kewajibannya lebih besar sedikit dari total assetnya, namun ternyata kemampuan perusahaan untuk mendapat laba sangat bagus, sehingga berangsur-angsur dapat mengejar ketertinggalan itu.
Tapi saya pribadi sih, nggak suka dengan perusahaan yang utangnya lebih besar dari asset (dalam konteks total asset vs total liabilities ) Kembali lagi ke Anda2, seberapa ketatnyakah Anda ?



forum JSX dmn bro?
thx skali lg atas tulisan2nya